1
Informasi dan Pengumuman
Agenda Kegiatan Terbaru
Login Siswa & Guru
NIS. / User :
Password :
Sebagai : Guru/Siswa
Register |
Statistik Pengunjung
  Sedang Online     : 1 orang
  Visitor Hari ini
      : 1 visitor
  Total Visitor      
    : 23856 orang
  Tayangan hari ini
: 14 kali
  Total Tayangan    : 623010 kali

Kategori :    

Sejarah dan Perkembangan Islam


Ditulis pada hari Kamis, 16 Januari 2014 | 11:54 WIB | Oleh : Tati Rahayu. S.Pd.I


Sejarah dan Perkembangan Islam Tuesday, January 4, 2011 DAULAH BANI ABBASIYAH

  1. Asal Mula Daulah Bani Abbasiyah
    1. Periode pertama 132 H – 232 H sebagai pengaruh Persia pertama.
    2. Periode kedua 232 H – 334 H di sebut masa pengaruh Turki pertama.
    3. Periode ketiga 334 – 447 H masa kekuasaan Dinasti Buwaih.
    4. Periode keempat 447 H – 590 H masa kekuasaan dinasti Saljuk.
    5. Periode kelima 590 H – 656 H masa khilafah bebas dari dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya di sekitar Baqdad.

  2. Daulah Bani Abbasiyah yang didirikan pada tahun 132 H / 750 M oleh Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas merupakan kelanjutan dari pemerintahan Daulah Umayyah yang telah hancur di Damaskus. Gerakan bani Abbas pada waktu itu yang dipimpin oleh Ibrahim Al Imam melakukan gerakan diam-diam atau rahasia yang berpusat di Khurasan. Dengan pimpinan panglima perang yang bernama Abu Muslim Al Khusrasany, Bani Abbas dapat menguasai daerah Khurasan dan Kufah. Setelah Kufah dapat dikuasai sepenuhnya, diangkatlah Abul Abbas menjadi Khalifah pertama pada tahun 132 H / 750 M. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Daulah Bani Umayyah pada saat itu. Dinamakan kekhalifahan Daulah Abbasiyah, karena para pendiri dan penguasa dinasti ini merupakan keturunan Bani Abbas, paman Nabi Muhammad SAW. Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya. memiliki lima periode yaitu :

  3. Khalifah-Khalifah Bani Abbas
    1. Abul Abbas Assafah (132 – 136 H / 750 – 754 M) Abul Abbas Assafah memusatkan siasat pemerintahannya untuk mengukuhkan kekuasaannya dengan jalan melakukan tindakan tangan besi terhadap lawan politiknya, yaitu Bani Umayyah. Keluarga Bani Umayyah beserta pendukungnya ditumpas. Abul Abbas Assafah menetapkan kota Anbar menjadi ibu kota pemerintahan dan diberi nama Hasyimiyah. Ia meninggal pada tahun 136 H / 754 M.

    2. Abu Ja’far Al Manshur (136 – 158 H / 754 – 775 M) Usaha Abul Abbas Assafah dalam menegakkan kestabilan dan keamanan dalam negeri dilanjutkan oleh Abu Ja’far Al Manshur dengan cara menumpas pendukung Bani Umayyah serta para pembantunya, seperti Abdullah bin Ali di Siria dan Shalih bin Ali di Mesir, keduanya adalah pamannya sendiri yang ditunjuk sebagai gubernur oleh khalifah sebelumnya. Setelah keamanan dalam negeri terjamin dengan baik, Abu Ja’far Al Manshur mulai memajukan ilmu pengetahuan dengan jalan menerjemahkan buku-buku dari bahasa Yunani, Persia, Siria, dan India ke dalam Bahasa Arab, terutama di bidang kedokteran, astronomi, dan ilmu pasti. Abu Ja’far mendirikan kota Baghdadkotapemerintahan termasyhur di Timur dan sebagai pusat berkembangnya ilmu pengetahuan. Di samping itu, beliau mendirikan jawatan kehakiman, kepolisian, pajak, dan pos untuk memperlancar jalannya roda pemerintahan di seluruh daerah. Beliau dapat menguasai Afrika Utara, namun tidak dapat menundukkan kekuasaan Bani Umayyah di Spanyol karena terlalu jauh dari pusat pemerintahan. sebagai ibu Kekuasaan Bani Umayyah pun dibangun kembali oleh Abdurrahman Ad Dakhil di Spanyol pada tahun 138 H / 575 M. Pemerintahan baru itu dengan ibu kota Cordova. Kedua kerajaan ini pun bersaing dalam memajukan ilmu pengetahuan dan peradaban untuk mempercepat tercapainya zaman keemasan bagi umat Islam di kedua kerajaan tersebut.

    3. Al Mahdi (158 – 169 H / 775 – 785 M) Setelah ayahnya Al-Mansyur meninggal maka Al-Mahdi naik tahta. Baru saja menjabat ia memerintahkan membuka pintu penjara dan melepaskan orang-orang hukuman politik, yang tidak dilepaskan hanya orang-orang penjahat, pembunuh dan perampok. Pada zaman ini pertumbuhan perekonomian meningkat disektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga, besi. Pada masa pemerintahannya ia melakukan pembangunan-pembangunan penting seperti memperluas Masjidil Haram, memberi bantuan tetap kepada fakir miskin, memperbaikki jalan antara Madinah, Mekah, dan Yaman.

    4. Musa Al Hadi (169 – 170 H / 785 – 786 M) Masa pemerintahan Al Hadi hanya berjalan tidak lama. Dia banyak menghadapi pemberontakan dari kaum Syiah, Khawarij, dan golongan Zindiq (atheis), tetapi semua dapat diatasi olehnya.
    5. Harun Al Rasyid (170 – 193 H / 786 – 809 M) Harun Al Rasyid terkenal dalam sejarah sebagai seorang khalifah yang penuh wibawa, dicintai rakyatnya, dan disegani oleh lawan dan kawan. Beliau sangat mencintai ilmu dan kebudayaan, bijaksana, dan penuh inisiatif untuk memajukan kerajaan yang sangat luas itu sehingga tercapailah suatu kemajuan dan kejayaan yang sangat gemilang.


Kategori : Religi | 8293 hits

<< Kembali ke Artikel